Istiqomah kuncinya

 I used to hate cooking. 

Why? 

Karena di awal aku mulai masak, ada aja kejadian. Dari kecipratan minyak di muka lah, gagal masakannya, trus ntah apa lagi sampai saya trauma. 

Lalu tiba saatnya, i have to cook kalau mau makan apa yang saya mau. Perlahan saya menghilangkan segala trauma. 

It turned out, cooking is my passion... 

Di lain waktu, saya mencoba belajar menjahit. Kalau menjahit sekadar pakai tangan mah dari jaman kapan juga bisa. Hehe. Tapi begitu mencoba dengan mesin, duh, kok lebih susah ya. 

Memasang benang di mesin yang menurut saya ribet. Salah pasang 1 titik aja, jahitan bakal kacau. There is no way not to follow the procedure. 

Jujur, sampai sekarang, 3 years later, saya masih berjuang dengan urusan benang di mesin jahit ini. Ngeselin, tapi gitu melihat hasil jahitan, saya bahagia. 

Untuk tetap konsisten melakukan suatu hal, ini sih yang paling sukar. Kata Mama, saya kurang istiqomah, gampang berpuas diri. Alhasil, saya memiliki kemampuan yang random dan gak maksimal dalam banyak hal. 

I do many things and I succeed. Tapi kalau aja saya istiqomah, mungkin saya bakal jadi expert. Wkwkwkw. 

I perhaps a fast learner. Utamanya saya suka belajar hal-hal baru. Saya cepat bosenan, maka itu juga yang menyebabkan saya kurang istiqomah. 

It is not a good thing actually... 

Beberapa tips untuk mengembangkan diri walau progressnya perlahan yang bisa dilakukan adalah:

1. Never stop! 

Iya, pokoknya jangan pernah berhenti berusaha.. Mau hari ini gak ada kemajuan, tetap aja besok kita usahain lagi. Kontinyu melakukan sampai kita berhasil. 

2. Patah semangat is a big NO

Ini sih yang susah banget untuk dilawan. Patah semangat. Saya pernah di tahap ini dan sampai sekarang belum fully recovered. Tapi kok saya pede aja ya nulis tips begini? Paling gak, tulisan saya sendiri bisa menjadi penyemangat untuk bangkit kembali. 

3. Terus belajar

Belajar tuh gak akan ada habisnya. Semakin kita belajar, semakin kita sadar kalau ilmu kita tuh gak banyak-banyak amat. Belajar bisa dari mana aja. Pengalaman orang lain maupun dari kesalahan sendiri, membaca, menonton youtube dan dari mengamati. 

4. Berdoa

Ini juga gak kalah pentingnya. Apapun agamamu, libatkan Tuhan dalam setiap langkah. Dengan bantuan-Nya segala masalah menjadi lebih ringan dan hati juga lebih tenang. 

Dari bulan lalu, saya lagi belajar lagi, memperbaiki apa yang sudah  biasa saya lakukan. Memperbaiki apa yang saya anggap itu benar selama ini. Susah sebenarnya. Alhamdulillah saya punya teman-teman dalam 1 kelas yang saling memberi dukungan. InsyaAllah kali ini saya bisa istiqomah sebenarnya. Apa yang saya pelajari semoga bisa menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat. 


Comments

Popular Posts