Teman, sahabat.. whatever you name it
Rasa-rasanya, aku selalu berbuat baik kepada teman dekat. Menanyakan kabar, mengingat ulang tahun mereka, memberikan perhatian jika mereka ada masalah, dan hal lain sewajarnya sahabat.
We joked crazily karena kita bersahabat.
Sahabat dianggap juga bagian dari keluarga. Orang-orang yang kita kasih kabar terlebih dahulu saat ada berita bahagia ataupun berita sedih. Jangan sampai mereka mendengar berita tentang saya dari orang lain terlebih dahulu.
We don't forget them. We know their existence.
Saya sering tiba-tiba menghubungi teman yang gak dekat-dekat amat karena tiba-tiba kepikiran orang tersebut. Just to say hi, apa kabar. Just to know they are alive and healthy.
Mungkin, mungkin yaaaa.. people just take my kindness for granted. Atau, segala yang saya lakukan memang sebenarnya biasa saja. Saya aja yang merasa telah berbuat 'lebih'. Mbuhlah...
Dalam satu waktu, seseorang yang saya anggap sahabat, bercerai dan saya tidak diberitahu. Darimana saya bisa tahu? Feeling! I hate my feeling over something. Lalu saya ceki-ceki postingan IG-nya yang gak pernah lagi berfoto dengan suaminya.
Di lain waktu, another person, ditinggal suaminya (wafat) dan saya baru diberitahu 4 bulan kemudian. Padahal, in between, kita bersilaturahmi pesan lebaran. My 'feeling'? I had a strange one, actually. Kenapa sering kepikiran dia dan suaminya tapi teman saya ini memang gak pernah posting apapun. Ntah kenapa, in between, aku juga gak pernah bertanya langsung. Ahh...
Jujur, postingan ini lebih ke uneg-uneg saya biar segala kesedihan ini bisa lepas. Lega. Dan juga jadi pengingat di kemudian hari.
Sampai sekarang saya sedih tiap memikirkan ini.
Dan apa yang saya lakukan setelah apa yang mereka perbuat adalah, to move on and no longer having them as my bestie.
Yes, i can be that cruel.
Yes, i can stop caring.
Yes, my sadnes making me tired.
Enough is enough.
Gak gampang untuk memahami apa yang mereka lakukan. Kenapa sih mereka begitu ke saya? Kenapa ini? Kenapa itu?
At the end, boleh gak kalau saya menyimpulkan, mungkin ini cara Allah untuk kita gak jadi sahabat lagi. Mungkin saya tidak baik untuk mereka. Mungkin mereka tidak baik untuk saya.
Gak usah memikirkan kemungkinan lain. We are just not meant to be besties.

Comments
Post a Comment