Batu Empedu - update

Di tulisan sebelumnya aku udah share ya gimana aku didiagnosa ada batu empedu yang imut kecil (beberapa).

Melalui pengobatan yg thorough dari Dokter Felix Satwika, melalui pembiayaan BPJS. Selama tiga bulan rutin konsultasi - ambil obat, cek darah ina inu. Setelah 3 kali ambil obat, dapat kertas untuk USG seluruh perut di bulan berikutnya.

Pas USG tentunya kuberdebar-debar, takut batunya keras kepala betah tinggal di dalam empedu. Alhamdulillah wa syukurillah, pas di cek, bersih..sih..not a single trace.

Kaget.

Bersyukur sangat.

Percaya gak percaya bahkan sampai sekian lama setelahnya.

Aku gak bisa menjelaskan obat apa saja yang diberikan karena gak mau pembaca blog untuk self-diagnosed ya. 

Aku akan share beberapa hal yang aku lakukan untuk menunjang pengobatan saja.

Selama pengobatan, aku gak makan malam. Paling lambat jam 5 sore makan. Meminimalisir penggunaan minyak. The very least, aku jarang banget makan gorengan. Aku pakai minyak hanya untuk menumis. Makanan bersantan pun sangat jarang.

Benar-benar strict dalam menjaga asupan yang pada akhirnya mengubah kebiasaanku hingga saat ini. Dulu aku bisa makan gorengan langsung sebanyak 4 potong. Sekarang, makan 1-2, sudah berasa cukup sangat. Dulu suka banget makan kerupuk, sekarang makan 1 saja sudah cukup. Kerupuk yang biasa ada di nasi/mie goreng, gado-gado/ketoprak ataupun bubur ayam sudah aku hindari.

Jika di rumah masak makanan bersantan terlalu sering, akupun sudah gak tertarik dan protes. Hahahaha.

Bahkan ngemil keripik pun sekarang sudah jarang. Sakit karena batu empedu, benar-benar membuat aku lebih aware akan kesehatan.

Rasa sakit saat ada batu empedu, benar-benar membekas. 

Akhir-akhir ini aku mulai merasa sakit lagi di bagian empedu, tanpa serangan tentunya. Hanya merasa tidak nyaman. Tapi kadang, aku rasa-rasa, ya hanya perasaan saja. Hahaha. Ah.. semoga batu empedu segan menghampiriku.

Seperti saat pengobatan telah selesai, masih ada ketidaknyamanan di bagian perut kanan. Tapi saat itu ada dokter yang bilang, bisa jadi itu sisa-sisa gesekan batu empedu yang runcing dan belum sepenuhnya recovered.

Well.. begitulah update pengobatan batu empedu.

Setiap orang punya prosesnya masing-masing. Jangan lupa untuk konsultasi ke dokter yang tepat.

Ohiya, aku lupa share juga, selama pengobatan tentunya tiada henti aku mohon pertolongan dari Allah untuk kesembuhan.

Satu yang paling penting sebelum berobat: berdoa! 

Berdoa untuk kesembuhan dan dipertemukan dengan dokter yang baik. Yes, segitu pentingnya bertemu dokter yang baik, thorough dalam mengobati dan mau mendengarkan keluh kesah pasien.

Dokter menjadi salah satu penentu keberhasilan kita berobat. Seandainya dokternya ngeselin, pasien juga gak semangat yakan untuk berobat.

Beberapa waktu lalu, saat aku nganterin Mama berobat dengan Dokter Felix Satwika, aku bilang ke beliau, "dulu orangtuaku maunya ke Penang karena dokter di Indonesia galak, sekarang mereka udah gak mau ke Penang lagi karena dokter Indonesia sudah ramah dan baik". Dokternya jadi ketawa dengar cerita aku.

Beneran sih ini. Sekarang kedua-orangtuaku udah nyaman berobat di Jakarta walau antrian panjang tapi saat ketemu dokter, dokter mendengarkan, mau melihat wajah pasien, gak diburu-buru harus cepat selesai. 

Dua puluh tahun lalu, antrian dokter sangat panjang dan saat konsultasi, dokternya pun gak mau melihat wajah pasien, bahkan gak mau menjelaskan gimana sakit yang diderita.

Hal-hal sesimple ini seberpengaruh itu ke mental pasien. Alhamdulillah dokter di Indonesia mau mengubah berproses ke arah lebih baik. Semoga Allah membalas kebaikan dokter-dokter yang sabar dan baik hati. Aamiin..

Comments

Popular Posts